7 Penyebab Kesalahan Dalam Memilih Pasangan Hidup (Bag.2)

January 15, 2010 at 12:38 pm


Lanjutan…..

  • Salah satu atau keduanya memilih pasangan untuk menyenangkan orang lainnya Mengapa orang mau memilih pasangan hidup untuk menyenangkan orang lain? Sebagai seorang psikolog, jawaban atas soal itu mudah. Kebanyakan dari kita berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, dan beberapa dari kita mengorbankan seluruh identitas pribadi kita untuk membuat semua orang lainnya bahagia. Berkali-kali saya menjumpai pasangan yang salah satunya memilih pasangannya karena ingin menyenangkan orang tuanya atau orang penting lainnya. Itu tidak akan berhasil! Untuk membuat keputusan yang baik, anda harus membuatnya berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan tujuan-tujuan hidup dari diri anda sendiri, bukan orang lain. Apakah ini berarti anda seharusnya tidak mendengarkan apa yang orang-orang penting di sekitar anda katakan tentang pilihan anda? Tentu saja tidak. Keluarga dan teman-teman anda mengenal anda dengan baik, dan mereka ingin anda bahagia. Jadi sebaiknya anda mendengarkan saran mereka dan mempertimbangkan pendapat mereka. Namun terkadang orang-orang ingin anda membuat mereka bahagia. Meskipun mereka tidak mengenal anda sebaik anda mengenal diri anda sendiri, dan meskipun anda-lah yang akan hidup bersama dengan pasangan anda bertahun-tahun, mereka ingin anda mengijinkan mereka yang membuat keputusan. Saya sering mengatakan, “Jangan biarkan seorangpun memilih pasangan hidup anda dan jangan ijinkan diri anda untuk memilih pasangan hidup untuk memuaskan orang lain. Ini pernikahan anda, kesempatan sekali seumur hidup anda!” Saya sering menemukan bahwa pihak-pihak ini seringkali adalah orang tua. Mereka mempunyai pendapat, mungkin karena pengalaman hidup mereka, mereka berpikir bisa membuat keputusan yang lebih baik dibanding anda. Mereka bisa saja benar, namun mereka bisa juga salah. Apapun kasusnya, ini adalah keputusan anda, dan jika anda membiarkan orang lain memutuskan untuk anda, anda mengambil resiko tinggi mengalami sakit hati jangka panjang. Sebagai orang tua dari putri-putri saya, saya dan istri saya benar-benar ingin tahu tentang pilihan dan pertimbangan mereka dalam hal pasangan hidup. Jika ada hal-hal yang perlu didoakan oleh orang tua, mendoakan pasangan hidup anak-anak sudah seharusnya berada di urutan teratas, setiap anak membutuhkan arahan dan berkat dari orang tua. Namun berjam-jam yang saya habiskan untuk konseling mengajarkan saya satu hal penting: pengaruh orang tua -walau kadang tanpa sepatah katapun yang terucap- sangat kuat terhadap anak-anak mereka. Betapapun hati-hatinya seseorang, setiap anak punya kecenderungan kuat untuk memilih pasangan karena dorongan (dukungan) atau larangan orang tuanya. Jika orang tua pintar, mereka akan mengetahuinya pada saat keputusan harus diambil. Mereka akan memberikan pertimbangan- pertimbangan kepada anak mereka untuk membuat keputusan berdasarkan data-data yang ada, namun pilihan itu haruslah merupakan pilihan anak mereka. Jika orang tua berpikir anak mereka tidak mampu mempertimbangkan data yang ada karena belum cukup berkembang secara pibadi, atau karena mereka masih bermasalah dengan diri mereka sendiri, mereka dapat mendorong dia untuk mencari konseling sebelum menikah. Tapi saat mereka menentukan pilihan, itu haruslah merupakan pilihan dia yang bebas dan independen, yang dapat mereka jalani selama mereka hidup. Saya sangat mendorong anda untuk memperhatikan setiap pendapat yang anda terima sebelum anda menentukan pilihan. Pendapat orang lain adalah penting, pengajaran yang anda terima adalah penting, dan bacaan yang anda pelajari akan sangat membantu. Setelah semua itu, dengarkanlah suara hati anda sendiri. Tantangan terbesar dalam hidup anda adalah ketika anda berdiri di tengah-tengah semua pendapat, informasi, dan perasaan, lalu membuat keputusan yang bijaksana. Apapun yang akan anda lakukan, jangan kacaukan hidup anda dengan membuat suatu keputusan hanya karena anda tidak ingin menyakiti calon pasangan anda, atau karena anda takut teman anda berpikir yang negatif tentang anda, atau karena semua undangan sudah tersebar, atau bahkan karena seseorang mengatakan bahwa anda dan calon pasangan anda adalah pasangan yang cocok satu sama lain. 
  • Area perkenalan yang terlalu sempit Kadang-kadang 2 orang datang pada saya dan menyatakan niat mereka untuk menikah, tapi cara mereka untuk saling mengenal satu sama lain terlalu sempit. Mereka belum berjalan bersama dalam melalui berbagai keadaan dan situasi, yang penting untuk benar-benar mengenal seseorang. Mereka belum benar-benar mengetahui apa yang disukai atau tidak disukai satu sama lain dalam kebanyakan area dalam hidup, mereka belum menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga masing-masing, dan mereka belum melalui satu pun argumentasi atau konflik. Saya yakin anda mengerti maksud saya. Orang-orang yang sedang jatuh cinta biasanya tidak ingin diganggu dengan pembicaraan tentang masalah atau konflik. Mereka merasa “yakin” bahwa mereka sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk memilih satu sama lain dengan benar. Tapi sesungguhnya, sempitnya pengalaman mereka dengan satu sama lain membuat keputusan mereka beresiko tinggi. Adalah penting untuk meningkatkan pengalaman anda bersama sebanyak mungkin, luangkan waktu bersama dengan calon pasangan anda dalam waktu-waktu dan berbagai kesempatan yang berbeda, saat stress atau santai, saat sedih atau senang. Lihatlah bagaimana dia bermain dengan anak-anak, melakukan tugas-tugas rumah, mengatur keuangan, dan hal lainnya. Semakin banyak pengalaman yang anda lalui bersama, semakin besar kesempatan anda untuk menghindari kejutan-kejutan yang tersembunyi. 
  • Pasangan mempunyai harapan yang tidak realistis Seorang wanita datang kepada saya dan menceritakan tentang kegagalan pernikahannya, “Saya tidak mengira bahwa hubungan yang dimulai dengan penuh harapan dan cinta dapat berakhir salah. Dulu saya yakin bahwa kalau dia sudah melihat cinta itu sebenarnya bagaimana, maka segalanya akan menjadi baik-baik saja. Lalu dia akan berubah dan mencintai saya sama seperti saya mencintai dia. Dia sudah mempunyai semuanya dalam dirinya, dia hanya butuh dicintai untuk bisa mengeluarkan semua itu. Saya akan menjadi orang yang membuka dia, seorang wanita yang akan membuat hidupnya lebih baik…” Mungkin anda bisa melihat, sama seperti saya, adalah sikap yang naif jika kita berpikir bahwa kita bisa mengubah seseorang sendirian. Wanita ini menyadari bahwa harapan-harapannya memang tidak realistis. Wanita lain yang hanya bertahan 2 tahun dalam pernikahannya mengatakan, “Saya tidak pernah mengira akan ada masalah keuangan. Dia kelihatannya mempunyai banyak uang ketika kami pacaran. Saya hanya berasumsi bahwa tidak akan pernah ada masalah keuangan.”   Saya ingat satu kalimat dari buku terkenal The Road Less Travelled, “hidup itu sulit”. Dia benar tentang itu. Jika kita hanya berfokus pada sisi menyenangkan dari sebuah hubungan, kita mungkin akan terjebak dan berpikir bahwa cinta adalah jalan ke surga yang membawa kita keluar dari semua ketakutan dan keterbatasan kita, “cinta itu begitu mengagumkan. .. mari kita menikah… semuanya akan menjadi sangat indah…” Meskipun semua perasaan ini memang indah, namun celah terbesarnya adalah ketika kita membayangkan bahwa cinta itu sendiri bisa menyelesaikan masalah-masalah kita, menyediakan kenyamanan dan kesenangan yang tiada akhir, menyelamatkan kita dari menghadapi diri kita sendiri, ketakutan-ketakutan kita, kesendirian kita, sakit hati kita, atau bahkan kematian kita. Terlalu terikat pada hanya sisi yang menyenangkan saja dari cinta membuat kita harus menghadapi banyak shock dan kekecewaan ketika kita kembali ke “bumi” dan harus menghadapi tantangan-tantangan hidup yang nyata untuk mengusahakan sebuah hubungan agar berjalan dengan semestinya. Ketika sebuah pasangan memutuskan untuk menikah, mereka sebaiknya sudah waspada bahwa mereka akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang nyata, bahkan jika hal-hal berkembang dengan cara yang paling positif sekalipun. Kadang usaha-usaha untuk membuat suatu hubungan berhasil dapat membuat kebanyakan orang merasa stress. Jika sebuah pasangan tahu bahwa kadang ketegangan dan rasa sakit itu tidak terhindarkan, mereka akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk belajar menghadapi dan menangani semua itu dengan efektif. Kuncinya adalah mengetahui apa yang akan anda hadapi, sehingga anda tidak akan terkejut dan memalingkan diri dari satu sama lain. Harapan-harapan kita kebanyakan dibentuk dari apa yang kita alami pada masa kecil. Jika orang tua anda membiarkan anda melihat dan atau terlibat dalam semua sisi kehidupan mereka -ketidaksetujuan, pergumulan, kegembiraan, mempertimbangkan keputusan penting- anda mungkin mempunyai gambaran yang lebih realistis dari kehidupan pernikahan. Namun kadang-kadang orang tua, dengan niat yang baik (menurut mereka), berurusan dengan hal-hal yang sulit itu di belakang pintu, atau mungkin ditangani hanya antara mereka berdua, anak-anak mereka lalu mengembangkan pemikiran bahwa pernikahan itu relatif mudah. Kenyataannya adalah, pernikahan yang sukses itu membutuhkan kerja keras dan usaha. Anda akan mengalami banyak sisi dari rasa sakit, dan akan ada masalah-masalah yang harus dihadapi. Dan sebaik apapun kondisi pernikahan anda, akan selalu ada tantangan-tantangan pribadi untuk menguji diri anda. Saya telah melihat banyak pernikahan berakhir karena banyak pasangan yang mengharapkan kehidupan mereka akan diisi dengan romantisme, jalan-jalan di pantai, dan bersenang-senang. Semua itu bukan realita.
  • Salah satu atau keduanya mungkin mempunyai masalah kepribadian atau masalah perilaku yang signifikan Jika ada beberapa hal dari kepribadian atau perilaku calon pasangan yang masih anda pertanyakan -seperti cemburu, emosional, temperamental, tidak bertanggungjawab, tidak jujur, kecanduan, masalah integritas seksual, atau keras kepala-  bertanyalah pada diri anda apakah anda mau menghabiskan sisa hidup anda dengan masalah-masalah itu. Hal-hal seperti ini jarang menghilang ketika anda menikah. Inilah sebabnya saya sangat prihatin ketika sebuah pasangan tetap memutuskan untuk menikah meskipun masih ada kecacatan signifikan yang belum dibereskan. Sebagian besar masalah di atas saya sebut sebagai ciri kepribadian, yang berarti sikap atau reaksi yang terjadi berulang kali dalam berbagai situasi yang berbeda, bukan hanya sekali atau 2 kali selama periode waktu yang lama. Jika calon pasangan anda dalam keadaan “bad mood” 2 atau 3 bulan lalu, itu bukan masalah besar. Tapi jika “mood”-nya sering berfluktuasi di minggu yang sama, dan jika sudah terlalu banyak minggu-minggu seperti itu, anda sedang menghadapi salah satu ciri kepribadian. Ciri-ciri kepribadian itu mungkin dimulai dari sebuah strategi untuk menghadapi sebagian peristiwa dalam hidup. Berbohong contohnya, calon pasangan anda menemukan dirinya berada dalam situasi yang sulit pada masa lalunya. Jia dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan terlihat buruk atau kehilangan sesuatu yang berharga, jadi dia berbohong, dan pada saat dia berbohong, kegelisahannya akan rasa sakit yang dia takutkan berkurang. Ini membuat dia mengulang untuk berbohong di kesempatan lain saat dia menghadapi dilema pada situasi yang serupa. Saat perilaku-perilaku semacam ini dilakukan berulang kali, mereka menjadi kebiasaan. Jika seseorang yang anda sayangi sering atau terus menerus tidak dapat diandalkan, atau tidak jujur, atau bersikap menyakiti anda, akan sangat sulit bagi anda untuk membangun rasa percaya kepadanya, atau nyaman bersama pasangan anda. Dan jika anda tidak dapat mempercayai atau nyaman bersama pasangan anda, waspdalah. Dalam keadaan apapun, jangan menikah sebelum masalah-masalah kepribadian yang signifikan telah diketahui dan dibereskan. Karena jika tidak, ada potensi yang berbahaya dalam pernikahan anda nantinya. Jika anda bertanya apakah ketujuh hal di atas adalah mutlak, saya bisa mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa beberapa orang yang menikah setelah berhubungan hanya beberapa bulan dan pernikahan mereka sukses. Saya tidak akan menyangkalnya karena saya tahu itu benar-benar terjadi. Tapi itu adalah perkecualian yang jelas. Kemungkinan yang lain pun dapat terjadi pada ke 6 hal lainnya. Namun jika anda mengikuti prinsip-prinsip di atas, paling tidak anda akan terhindar dari penyebab-penyebab utama salah memilih pasangan hidup. Lalu anda akan bebas untuk berpikir lebih positif tentang bagaimana anda akan membuat pernikahan anda berhasil melalui perencanaan dan persiapan yang matang. Kepuasan karena memilih pasangan hidup dengan bijaksana adalah tidak ternilai, dan usaha keras anda akan terbayar. Saya tidak dapat menghitung berapa banyak kehidupan yang akan dipengaruhi oleh sebuah pernikahan. Contohnya ayah dan ibu saya, sampai saat ini, kami semua (ada 45 orang, kami anak-anak mereka dan juga cucu-cucu mereka) bisa melihat bahwa pernikahan mereka telah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan kami dengan berbagai cara. Saya sangat ingin orang-orang dapat meningkatkan kesempatan mereka untuk menjadi bahagia dan menyediakan lingkungan yang sehat bagi orang-orang yang mereka sayangi jika mereka mengetahui pentingnya untuk memperhatikan ke tujuh hal ini. hahaha…. ini pelajaran dan panduan aja buat temen – temen yang uda pengen kawin or uda terlanjur kawin……   :)
About these ads

Entry filed under: Seputar Hubungan Intim. Tags: .

7 Penyebab Kesalahan Dalam Memilih Pasangan Hidup (Bag.1) Gaya Bercinta Sesuai Zodiak Anda


UPDATE artikel baru akan saya infokan ke email anda! GRATIS!
silahkan masukkan data anda :

Join 2 other followers

Calender

January 2010
M T W T F S S
    Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 38,582 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: